Minggu, 28 September 2008

Love politic part II

Kelas matematika yang cukup mudah bagiku baru saja usai. Aku masih berdiam di ruang kelas menyaksikan mahasiswa yang lain melewatiku menuju pintu yang terbuka di belakangku. Aku masih belum menghilangkan kebiasaanku tuk duduk di tempat terjauh dari dosen, jika dosen itu tidak berjalan-jalan ketika mengajar. Aku belum tahu apa enaknya duduk di tempat terbelakang, aku hanya merasa nyaman saja. Dan juga itu yang kurasakan mengenai keluar kelas terakhir.
Tapi aku mungkin tidak keluar kelas teralhir kali ini, setidaknya tidak sendiri. Indri menghampiriku ketika ruang kelas hampir sepi. Ia mengingatkanku pada satu hal: kemarin adalah hari seleksi menjadi enggota Dewan Perwakilan Mahasiswa. Apakah ia ingin membicarakan hal itu?
”Hai, Dick. Bagaimana wawancaranya?”
Bagaimana? Setelah mengenai siksaan mental dan fisik setelah mengalami ospek lagi, aku tak bisa mengatakan bahwa wawancara itu menyenangkan. Tentu saja, segala siksaan dunia itu untuk meyakinkan semua peserta bahwa menjadi anggota DPM adalah kerja keras sekaligus juga mengeliminasi yang mentalnya lemah. Terhitung ada tiga belas orang yang mengundurkan diri pasca diberitahukan kerugiannya menjadi anggota DPM yang diantaranya tidak lulus mata kuliah, melewatkan praktikum, bahkan ke-DO karena masalah akademis yang tidak mencukupi. Kesimpulan yang bisa aku katakan untuk Indri: “Menyenangkan.” Sebenarnya interview oleh anggota DPM itu hanya lima belas menit dari acara keseluruhan yang berlangsung selama tiga jam yang sebagian besar diisi oleh siksaan mental dan fisik itu. Oh ya, dan juga suntikan doktrin dari mereka, yang sebenarnya juga bagian dari siksaan mental.
“Lucu juga sih loe.”
Entah sejak kapan ia menjadi ramah. Bahkan sikapnya jauh dari yang seperti ini sebelum persaingan menjadi anggota DPM dimulai. Mungkin setelahnya, setelah ia sadar bahkan setelah tahu ia tidak bisa menjegalku selama masa pengumpulan berkas persyaratan itu. Atau setelah wawancara itu, yang aku tahu perempuan mendapatkan siksaan leabih ringan. Atau setelah pikirannya tercemar doktrin anggota DPM. Atau setelah ia tahu bahwa kecil kemungkinannya aku akan mencintainya meski ia sangat cantik, kaya, dan berbakat. Aku tidak tahu.
“Esok adalah pengumumannya. Loe siap?” katanya.
“Diterima atau tidak, gw tahu apa yang harus gw lakukan.”
“Sepertinya loe calon terbaik untuk menjadi anggota DPM. See you.”
Setelah ia pergi, aku masih belum mengerti apa arti dari perkataannya. Apakah anggota DPM itu adalah mahasiswa yang selalu duduk di belakang di setiap mata kuliah dan tidur di setiap mata kuliah yang dianggapnya tidak ada hubungannya dengan jurusan yang ditekuninya? Apakah anggota DPM itu mahasiswa yang tidak bisa merapihkan kamarnya sendiri dan jarang mandi sore? Apa tujuannya memujiku setinggi langit?
Bahkan menurutku, jabatan anggota DPM itu lebih pantas disandang oleh mereka yang selalu datang ke kelas lebih awal dan merebut kursi terdepan, rajin bertanya pada dosen, serta bisa merapihkan kamarnya sendiri. Aku yakin itu adalah Indri.
Dan aku semakin lagi setelah apa yang kulihat setelah kelas kimia pangan. Aku meihat Indri sedang di meja koridor gedung, sibuk dengan laptopnya. Tiba-tiba ada seorang mahasiswa membuang puntung rokok di dekatnya. Indri mengambil inisiatif dengan menginjak puntung rokok itu sampai baranya mati lalu membuangnya ke tempat sampah. Tidak lupa ia juga menutup hidung dan mulutnya ketika melakukan semua itu. Perempuan yang cerdas.
Ia mengingatkanku pada seseorang di masa laluku. Seseorang yang tanpa sepengetahuannya telah menjadi acuan kesuksesan banyak orang, yang tidak pernah terlewati. Yang tanpa sepengetahuannya telah menjadi pujian bagi sekolahnya. Yang tanpa sepengetahuannya telah aku cintai hingga ia tahu karena aku mengungkapkannya.
Terlepas dari berbagai kemungkinan yang mungkin aku rasakan terhadapnya, ia adalah kandidat terbaik untuk menjadi anggota DPM. Mengalahkannya, ataupun dikalahkan olehnya akan sama membanggakannya.
Dan hari pengumumannya tiba. Pengumumannya segera setelah dosen Biodigesti mengakhiri kelasnya dan seorang anggota DPM maju ke ruang kelas. Sudah jelas ia akan mengumumkannya.
“Saya tidak ingin membuang waktu. Kalian tahu tujuan saya di sini,” katanya. Seperti biasa, anggota DPM selalu serius. Mungkin akumulasi dari efek buruk kesibukan selama masa baktinya.
Aku sedikit harap-harap cemas menunggunya, dan entah apa yang dirasakan Indri. Mungkin seperti alunan musik tango, biasanya semerdu itulah detak jantung orang baik. By the way, mengapa aku harap-harap cemas? Aku bahkan tidak tahu motivasiku mencalonkan diri. Seingatku, aku hanya menjawab tantangannya Indri.
“Ada sedikit masalah. Ada kelas yang tidak menghadirkan calonnya dalam seleksi, dan juga proses penilaian bagi calon yang mengikuti seleksi agak sulit dilakukan karena memang sangat kompetitif. Dan akhirnya kami putuskan, ...”
Tiga detik, lima detik, sepuluh detik suasana sepi seolah mengundang teror bagi seisi kelas. Katanya tidak mau membuang waktu?
“Antara Indri dan Dicky, kami memutuskan bahwa kalian berdua lulus.”
What? Bagaimana bisa? Bukankah dalam satu kelas hanya ada satu wakil? Itu ketentuan pokoknya.
Terlepas dari masalah itu, ternyata cukup membanggakan juga tidak mengalahkan maupun dikalahkan oleh Indri. Aku dianggap sejajar dengan perempuan berbakat itu.
Tapi bagaimana mungkin dalam satu kelas terdapat dua wakil? Syukurlah Indri menanyakan itu sesegera mungkin.
“Ketentuan pokok masih berlaku,” jawabnya. “Untuk itu, kami mengharapkan kerelaannya bagi salah satu dari kalian untuk pindah ke kelas yang tidak menghadirkan wakilnya dalam seleksi. Ada yang bersedia?”
Dengan segera aku mengangkat tangan, menunjukkan bahwa aku bersedia. Aku sudah berpikir, di jeda tiga detik sebelum aku mengangkat tangan itu.
Lalu akupun maju ke mimbar kelas, sekedar untuk memberi salam terakhir mungkin.
“Kalian tahu siapa gw, mahasiswa aneh yang selalu memilih tempat duduk yang terbelakang. Mungkin beberapa dari kalian terkejut gw terpilih, tapi itu menunjukkan bahwa gw ngga main-main dalam menjadi anggota DPM. Tidak ada yang spesial dari apa yang gw miliki, selain keinginan gw untuk menjadi seperti Indri, mahasiswi yang kalian tahu sangat berbakat. Meski saat ini gw sudah disejajarkan oleh Indri, gw belum selesai.
“Kelas ini menyenangkan. Kalian bisa membayangkan bagaimana rasanya pindah dari kelas yang menyenangkan ini. Itulah yang gw rasakan, meski gw terlihat seperti mahasiswa yang akan di-DO.
“Alasan gw mengajukan diri untuk pindah kelas adalah karena gw ngga ingin perempuan mengalami kesulitan yang lebih berat. Ya, gw ngga ingin Indri mengalami kesulitan dengan masalah pindah kelas ini.”
Aku bisa melihat Indri tersenyum terharu terhadap yang aku katakan. Itu semua aku lakukan sebagai laki-laki. Dan juga sebagai penghormatanku terhadap apa yang bisa ia lakukan terhadap kampus ini. Aku tidak terlalu yakin ada alasan lain.
Pindah kelas memang merepotkan. Jika DPM tidak memfasilitasi, aku harus melapor ke direktorat kemahasiswaan, ke berbagai lab yang terkait mata kuliahku, dan para asisten dosen. Mungkin akan memakan banyak waktu.
Indri masih menunjukkan senyum itu. Cantik sekali. Perempuan seperti dia memang pantas mendapatkan yang terbaik.
“Kalau kalian merindukan gw, gw belum berpikir untuk mengganti nomor ponsel dalam waktu dekat.”
Beberapa tertawa mendengar itu. Indri termasuk yang tertawa itu.
Aku telah mendapat instruksi untuk mempercepat proses perpindahan kelas itu paling lama tiga hari lagi dan segera memperkenalkan diri kepada kelas yang baru itu. Juga kami diberitahu kapan rapat perdana akan diberlangsungkan. Lalu seisi kelas diijinkan bubar. Tapi Indri masih menungguku. Ia ingin mengucapkan sesuatu.
“Tidak salah kalau gw ingin loe menyukai gw. Atau dengan kata lain, ...”
“Ya, gw tahu.”
“Ketika mengetahui itu tidak mungkin, rasanya memang menyebalkan. Andai ada kemungkinan hal itu bisa berubah.”
Aku berpikir sebentar, lebih lama dari jeda tiga detik itu. Lalu aku menjawab, “Mungkin bisa.”
“Benar?”
“Loe tahu apa yang gw inginkan, yang gw sukai.”
Entah apa yang aku katakan benar, aku sendiri tidak yakin. Yang aku yakini adalah Indri pasti mengetahui maksud dari perkataanku. Tapi satu hal yang aku tahu, itu bisa memotivasi dirinya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih baik dariku. Dan aku tentu saja tidak akan membiarkan itu terjadi, ia telah menjadi acuan kesuksesanku. Aku akan bersaing, dengan cara yang sehat, hingga ia menyerah.
Setelah aku yakin Indri cukup jauh dariku, aku melihat ke layar ponselku. Aku memandang foto seseorang yang mirip Indri. Bukan mirip secara fisik, tapi secara sikap, perilaku, bakat, dan kecerdasan.
“Thy, do you see me?” itulah yang selalu kukatakan pada Tiara. Dan kini aku berhadap ia benar-benar melihatku.

Selasa, 09 September 2008

Love Politic

Kelas pengantar kewarganegaraan.
Aku menguap terus-menerus di kuris paling belakang ruang kelas. Sejak SMP ku memang membenci pelajaran sosial. Sangat tidak penting. Rasa tidak sukaku kepada pelajaran ini sangat terlihat jelas bahkan oleh dosen.
“Kepada mahasiswa berkemeja hitam di belakang, jawab pertanyaan saja, mengapa Montesquieu mengemukakan teori Trias Politica?”
Aku menjawab, “Karena ia tidak mendapatkan kursi kekuasaan di monarki.”
Seisi kelas tertawa. Tapi aku belum selesai menjawab. “Di era monarki prancis, raja berkuasa secara absolut. Ia yang membuat peraturan, ia yang menjalankan pemerintahan, dan ia pula yang menjatuhkan hukuman bagi yang dianggapnya ersalah. Trias Politica mengenai pembagian kekuasaan menjadi Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif yang mencegah absolutisme pemerintahan. Keinginan manusia bisa ditebak, ingin memperoleh kekuasaan. Jika tidak bisa absolut, Montesquieu berharap masih bisa mencicipi sedikit kekuasaan melalui Trias Politica-nya. Dan jika teorinya diaplikasikan di jamannya, tentu saja ia menginginkan bisa menduduki salah satu dari tiga dewan itu.”
Kali ini aku mendapatkan tepuk tangan dari seluruh kelas.
“Bukan itu jawaban yang saya inginkan,” kata dosen.
“Ini pelajaran non eksak, jawabannya tidak ada yang pasti. Dua dosen di bidang non eksak yang sama pun bisa berbeda jawabannya, apalagi lebih dari dua. Bapak bertanya mengapa, berarti bapak menanyakan alasan. Ini hanya perkiraan saya saja, saya tahu jawaban yang bapak maksud ada di dalam buku yang bahkan belum saya buka sama sekali. Dan jawaban di dalam buku itu, entah apa itu jawaban yang sebenarnya atau hanya pandangan penulis, kritikus, ahli filsafat, ataupun pembuat teori. Sekali lagi, ini pelajaran non eksak. Pertanyaan seperti itu tidak memiliki jawaban yang pasti.”
Kembali riuhan tepuk tangan menghujaniku. Dan pak dosen pun membubarkan kelas setelah merasa tidak ada yang perlu diajarkan lagi. Aku pasti akan di-blacklist olehnya. Siapa yang peduli? Aku belajar di jurusan Teknologi Pangan, bukan Komunikasi. Untuk apa pelajaran seperti itu?
Tapi kelas tidak langsung bubar. Ada seorang anggota Dewan Perwakilan mahasiswa. Ia mengajak dua orang dari mahasiswa kelas itu untuk menjadi anggota DPM. Seorang perempuan bernama Indri mengajukan diri. Dan setelah satu menit belum ada calon kedua hingga aku mengajukan diri. Sebenarnya tujuanku mengajukan diri agar kelas cepat bubar saja.
“Loe, jadi DPM? Ga salah? Menjawab pertanyaan dosen saja ga bisa,” kata Indri kepadaku setelah anggota DPM itu keluar kelas.
“Gw hanya ingin kelas cepat bubar. Gw ga berniat bersaing.”
“Bilang aja loe ga mampu, ga bisa melakukan hal semudah ini.”
“Memang benar, kok. Gw ga bisa.”
Setelah aku mengemukakan pendapatku tentang pencalonan itu aku menjauh dari depan kelas menuju pintu. Tapi seruan Indri menghentikan langkahku. “Dicky, loe bencong.”
“Gw ga pernah mengaku demikian.”
“Tapi sikap loe menunjukkan demikian. Berani berbuat harus berani tanggung jawab. Loe sudah mencalonkan diri, setidaknya melajulah hingga tahap seleksi.”
Setelah itu, Indri pergi keluar kelas lewat pintu yang berlawanan. Aku sudah dinasehati demikian keras oleh sainganku sendiri, dengan begitu keras. Ya, sebenarnya memang tidak sulit melaju hingga tahap seleksi saja. Aku tinggal melengkapi berkas yang baru saja diberikan, dan dilengkapi dengan berkas lain berupa daftar riwayat hidup, opini mengenai legislatif, dan tanda tangan tiga puluh orang teman sekelas.
Tapi kenyataannya tidak demikian.
Di hari pertama pasca pengajuan diri, aku mulai mengumpulkan tanda tangan. Ya, tidak mudah karena Indri sudah merebut tanda tangan mayoritas sahabat dekatku di kelas. Mereka yang sudah memberikan tanda tangannya tidak bisa memberikannya lagi. Di hari pertama, aku hanya dapat enam tanda tangan, empat dari sahabatku yang masih setia dan belum dihampiri Indri dan dua lagi dari mahasiswa yang bahkan tidak aku kenal. Ya, itulah politik, semua mengenai dukungan. Seharusnya tidak sulit mendapatkan tanda tangan 30 orang dari 102 orang di kelas.
Hari ketiga. Esok adalah batas akhir pengumpulan berkas termasuk daftar tanda tangan. Tapi jumlah tanda tangan yang aku dapatkan baru sembilan. Dan hari ketiga itu adalah masa yang tersulit.
“Apa maksudnya ga mau?” tanyaku pada seorang mahasiswi di kelas.
“Pokoknya ga mau aja.”
Ia bukan yang pertama mengatakan demikian.
Tak lama kemudian, Harris, sahabat baikku yang tanda tangannya berada di urutan teratas daftar tanda tangan yang harus aku penuhi, mendatangiku. Ia memberiku selembar kertas. Tulisan yang berada di kertas itulah yang mengejutkanku.
Di kertas itu tertulis pembandingan antara aku dan Indri yang sangat tidak seimbang. Indri disandingkan dengan kata cantik, berbakat, cerdas, dan peka terhadap masalah sosial. Sedangkan namaku berada di sebelah kata berantakan, pemalas, sering tidur di kelas, dan tidak peduli dengan masalah sosial. Semua fakta tentangku dan Indri yang tertulis itu memang tidak salah, tapi mengapa aku diceritakan sifat terburukku sementara Indri diceritakan sifat terbaiknya. Apalagi di bawah tertulis bbesar-besar, “Maukah kalian memiliki wakil seperti Dicky?”
“Semua yang ada di kelas ini menerima kertas itu, dari Indri,” kata Harris.
Tentu saja perasaanku sangat terpukul mengetahui itu. Tapi belum selesai persaingan, Indri menginginkan persaingan yang keras. Aku menyukai hal itu, tapi melawannya dengan cara yang kotor bukanlah caraku.
Masih ada sepuluh menit lagi hingga kelas dimulai. Aku ingin menjalani tantangan yang diberikan ini. Aku berdiri di hadapan para mahasiswa dan mulai berbicara ke seluruh penghuni kelas yang ada.
“Everyody, please. I need your attention. Kertas yang kalian dapatkan dari Indri tidaklah salah. Itu memang benar. Tapi kalian tidak mengetahui semuanya. Kertas itu tidak mewakili semua yang diketahui Indri dan semua yang perlu kalian ketahui. Sebenarnya memang mudah mengetahui keburukan orang lain, lebih mudah dari mengetahui kebaikannya, bahkan keburukan diri sendiri. Memang sebuah pertanyaan besar, apakah gw pantas mewakili kalian? Kalian yang paling tahu jawabannya, tapi saat ini gw membutuhkan dukungan dan tanda tangan kalian untuk melancarkan jalan gw menuju kursi legislatif. Gw ga akan mengecewakan kalian.”
Tepat setelah itu, puluhan mahasiswa mendatangi gw dan mengisi daftar nama dan tanda tangan yang gw sediakan. Tapi Indri yang sudah memenuhi berkas persyaratan termasuk kumpulan tanda tangan masih belum puas. Ia kini berdiri di sampingku dan mulai berbicara.
“Stop! Apa yang kalian lakukan? Apa kalian ingin menghancurkan kampus ini dengan mengirim Dicky menuju DPM?”
“Mungkin gw ngga begitu mengerti mata kuliah kewarganegaraan, tapi yang gw tahu negara ini negara demokrasi dan mendukung adalah salah satu hak azasi manusia. Pelarangan terhadap hak azasi berarti pelanggaran HAM berat. Pertanyaannya sekarang, maukah kalian memiliki wakil seperti Indri?”
Dukungan terhadapku semakin banyak, hingga melebihi syarat minimum pengumpulan tanda tangan. Dengan ini aku sudah melengkapi berkas persyaratan dan menuju ke tahap seleksi.
“Kenapa, Dri? Kenapa loe sangat ingin menang?”
“Tidak ada tujuan khusus. Gw cuma ingin memperoleh kedudukan yang lebih tinggi dari pada loe.”
“Kenapa? Tidak ada yang istiewa dari gw.”
“Ada. Gw tahu loe sangat menyukai perempuan berkedudukan tinggi dan dihormati.”
Ya, benar. Tapi itu sudah lama sekali. Ketika SMA, seorang perempuan yang sangat cerdas dan menduduki posisi wakil OSIS telah memikat hatiku meski ia tidak terlalu cantik. Dan memang benar bahwa alasanku menyukainya adalah karena kedudukannya yang tinggi, cerdas, dan dihormati. Tapi itu sudah lama sekali.
“Gw berharap bisa memikat hati loe dengan kedudukan yang gw peroleh. Gw ingin loe menyukai gw dengan apa yang berhasil gw capai. Tapi setelah hari ini loe pasti tidak akan menyukai gw sedikitpun saja,” kata Indri.
Sejujurnya, aku sudah lama kehilangan selera terhadap perempuan berkedudukan tinggi. Entah dari mana ia mengetahui masa laluku. Dan juga entah apa yang istimewa dariku sehingga ia ingin aku menyukainya. Tapi cinta bukan lagi tujuan hidupku yang paling utama sejak aku kehilangan selera terhadap peremuan jenis demikian. Indri yang biasanya terlihat manis pun kini menjadi terlihat kusam karena sikapnya yang menginginkan kekuasaan, dan diriku.

Love from Europe

Tiga tahun sudah aku berhubungan jarak jauh dengannya. Katharina, atau biasa aku panggil Kathy, adalah perempuan yang aku kenal dari situs komunitas. Kami terus mengadakan kontak selama tiga tahun itu tanpa putus, hingga akhirnya aku bisa menemuinya. Sangat kebetulan sekali aku mendapat beasiswa ke Jerman sehingga aku bisa memenuhi janjiku tahun lalu.
Eropa sedang musim dingin. Jam lima sore sudah seperti jam enam sore di Indonesia. Aku sedang duduk di atas bangku kayu pohon ek di bawah lampu taman yang baru saja menyala. Aku sedang mengenakan pakaian serba hitam, celana panjang, kaus, sweater, serta topi wool. dan aku sedang menjelajah internet lewat laptopku.
Di sekitarku sedang ramai orang-orang yang ingin memanfaatkan taman itu. Ada yang sedang saling membahagiakan bersama pasangannya, seorang ibu yang sedang berjalan-jalan bersama anaknya, dan seorang penyendiri lainnya seperti aku. Hanya saja kesendirianku tidak akan lama, aku akan bertemu Kathy.
Dua jam yang lalu aku mengadakan kontak dengan Kathy secara chatting. Ketikau itu ia masih berada di kantornya dan aku berjanji akan menemuinya di Loeweschwarz Park yang dekat dengan kantor tempatnya bekerja. Dan aku berkata akan mengenakan pakaian serba hitam dan membawa laptop. Ia yang akan mencariku.
Baru dua puluh menit berlalu, akhirnya ia menemukanku. Seorang perempuan dengan sepatu bot tinggi, rok mini, pakaian kerja standar tertutup jaket dengan wajah memerah karena cuaca dingin. Tapi dia memang cantik.
"Andre?" tanyanya kepadaku. Sesungguhnya, ia menyebut namaku.
"Kathy?" tanyaku balik, untuk memastikan saja. Lalu aku berdiri. Tak kusangka aku lebih tinggi.
Ia memang Kathy. aku tahu itu karena ia langsung memelukku segera setelah yakin bahwa akulah yang dicarinya.
'Oh my God, I can't believe this. We finally meet each other," katanya. Meski ia orang Jerman, bahasa Inggrisnya lumayan, terutama sejak ia mengadakan kontak denganku.
"I can't believe it either," jawabku.
Lalu ia duduk di sampingku dan kami mengobrol banyak hal. Tentu saja ada banyak hal untuk dibicarakan, tiga tahun saling mengetahui tapi baru kesempatan bertemu baru saja terwujud. Ya, kami baru saja bertemu, tapi dari sisi pria penyendiri yang sedang membaca buku yang berada tidak terlalu jauh dariku menganggap kami sama seperti pasangan lainnya. Aku memang menyukai Kathy, tapi aku tidak berharap sejauh itu terhadapnya.
Setelah satu jam ia mengajakku pergi ke tempat favoritnya, yaitu bar tempat ia biasa makan, minum, dan bersantai bersama teman-temannya. Aku juga diperkenalkan oleh mereka. Aku hanya bisa berbicara sedikit dialog Jerman seperti "Danke, gut," jika ditanya kabar. Selebihnya aku jawab dengan bahasa Inggris.
Setelah pua smengobrol bersama teman-temannya, Kathy mengajakku duduk di meja bar berdua saja untuk mengobrol bersama dengannya, lagi. Masih banyak hal yang ingin ia bicarakan bersamaku. Aku memesan kopi kental dan ia memesan Lemon Tea. Kopi buatan bar Jerman memang yang terbaik setelah Italia. Dan rasanya semakin enak melebih kopi manapun ketika aku mendengar suara Kathy.
"Andre, how was your feeling when you met me?"
"Actually, I was shocked. The real you is more beautiful than in the pictures."
"That was my feeling too. You look much better than in the pictures."
"Thanks. How's your job?"
"Fine, but still boring. When will you start your study?"
"I'll get studying next week."
Orbolan yang terjadi setelah itu adalah tentang pekerjaannya dan studiku, lalu berkembang menjadi hal-hal lainnya seperti cara hidup di Jerman, tempat wisata, dan lain-lain.
Ada suatu momen di mana teman-teman Kathy ingin bergabung, tapi dengan bahasa Jerman yang tak kumengerti Kathy sepertinya mengusir mereka. Dan ia mengaku demikian kepadaku setelahnya, "I just want to be only with you," katanya. Dan aku agak tersanjung mendengarnya.
Hari semakin malam, tidak terasa jalan di depan bar sudah semakin sepi. kathy juga menyadari itu, waktu menunjukkan hampir jam sepuluh dan esok masih hari kerja.
"Where do you live now?" tanyaku.
"I live in small apartment in Jasmin Street. You?"
"I live in small apartment n Berlin. But here, I stay in my friend's house. Where's Jasmin Street? Is it far from here?"
"No, it's just fifteen minutes walk."
"It's alread late. Let me take you home."
"Ok."
Di jalan, mungkin karena temperatur yang dingin, Kathy menggenggam tanganku dan terkadang memeluknya. Aku tidak keberatan karena atas hal itulah aku juga merasakan kehangatan. Tapi tidak pernah terbayangkan akan sedekat ini dengan perempuan Eropa, meski aku memang mnyukainya. Tapi hanya sebatas itu, tidak lebih.
“Here’s my apartment. So small, isn’t it?” serunya ketika kami sampai di depan suatu bangunan setinggi sekitar dua belas lantai, bertembok hijau muda, dan memang cukup kecil. Bisa dibilang bentuk bangunannya cukup kurus karena tiap lantai hanya terlihat tiga jendela.
Di elevator, kathy masih menggenggam tanganku erat-erat. Erat sekali hingga aku merasa aku adalah miliknya. Hanya satu orang yang pernah melakukan ini terhadapku, dan itu bukan dia. Tapi rasanya sama.
Nomor kamarnya adalah G3. bisa ditebak sistem penomoran yang sederhana itu karena bentuk apartemennya yang kurus ini. Setelah kami berdua sampai di depan kamar benomor G3 itu, ia tidak langsung masuk. Ia masih ingin bersamaku. Ia memegang kedua tanganku erat-erat dan tersenyum kepadaku.
“Would you stay a while with me, here? It’s already late, I’m not sure the buses still there.”
“I can’, my friend is waiting for me. And in the morning I have to get back to Berlin. I can walk to my friend’s house. It’s just thirty minutes walk.”
“It’s far. And I don’t want to say good bye, so...”
Ia lalu mencium bibirku dengan penuh perasaan. Akku bisa merasakannya, ia memang menyukaiku. Mungkin lebih dari itu. Baru lima jam yang lalu aku bertemu dengannya dan sekarang ia menciumku. Tapi secara teknis aku sudah mengenalnya selama tiga tahun, lewat hubungan jarak jauh.
“I’ve been waiting for you, for this day. Tell me that you’ve been waiting for me too,” kata Kathy.
“I’m sorry, Kathy. I can’t. Of course I’ve been waiting for you, but not like this. I’m sorry.”
“Why?”
“I have someone, my beyonce.”
Di wajahnya terlihat ekspresi terkejut. “Oh, it’s OK,” katanya, setelah beberapa detik berusaha untuk mencerna kenyataan itu.
Walaupun ia sudah mengatakan begitu, aku tetap merasa bahwa ia sangat-sangat sedih. Aku bisa melihat dari wajahnya, dan aku juga merasakan apa yang ia rasakan.
“I’m sorry, Kathy.”
“”It’s OK, I’m fine. I’m OK, I can undrstand. I’ve been trying to stand with this loneliness, I’ve been dreaming that some day I will be with you, standing right beside you. I think it will not be true.”
“I’m sorry.”
“It’s OK. Good night.”
Ia segera masuk ke kamarnya tanpa sedikitpun memandangku. Mungkin karena ia tidak ingin aku melihat wajahnya yang sudah terlihat telah dibasahi air mata. Sungguh rasanya sangat berat jika telah membuat seorang perempuan menangis.
Kathy, I love you too. But we suppose to be friends.

Minggu, 03 Agustus 2008

My Future

Masa depan itu, baikkah diketahui? Secara akal sehat, masa depan tidak bisa diketahui karena belum terjadi. Tapi ada orang yang mengaku bisa mengetahui masa depan. Semacam Oracle, Clairvoyant, dsb.
Tapi bagaimana jika orang itu adalah orang yang menyukaimu?
“Hayden, loe sakit ya?” tanyaku dalam telepon.
“Ngga.”
“Mana mungkin loe bisa tahu gw akan jatuh dari tangga sebentar lagi? Gw turun pun karena menerima telepon dari loe.”
“Eh, kamar loe di atas ya?”
Aku segera menutup telepon itu dan kembali ke kamarku. Dan ternyata, Hayden benar. Aku terguling tujuha nak tangga dan mampir di depan telepon lagi. Rasanya memang sakit, tapi aku pernah jatuh dari ramp skateboard dan rasanya lebih sakit.
Aku meraih telepon dan mendial nomor Hayden segera.
“Halo.”
“Tell me how did you do that.”
Tidak hanya terjadi satu kali. Aku ingat ketika menyaksikan pertandingan basket bersama teman-teman dania termasuk. Di ronde kedua ia mengajakku bertaruh bahwa skornya akan berakhir 81-79. Aku mengikuti taruhannya, dan yang kalah harus membelikan untuk perjalanan pulang.
Dan skornya tepat 81-79. Aku menduga itu hanya tebakan beruntung saja. Tapi bila dipikir-pikir, itu keberuntungan yang amat sangat karena kemungkinannya sangat kecil. Memang sih, skor basket selalu berakhir di skor antara 75 sampai 110, tapi kemungkinannya tetap saja 35 kuadrat.
“I don’t say I have future sight. I just know,” jawabnya.
Sejak kasus basket itu, gw dan Hayden seperti anjing dan kucing yang selalu mengejek jika bertemu tapi tetap sahabat.
“Eh, jelek. Berapa skor Juventus nanti malam?” Seringkali itulah sapaanku ketika bertemu dengannya.
“Ga tahu, jelek. Ga sering kelihatan. Mau taruhan lagi ya?”
“Persiapan aja, soalnya ada indikasi uang gw akan habis menipis akhir bulan ini.”
“Bilang aja loe mau mengecat baru skateboard loe di Creative Shop.”
“Kok tahu?”
“Kok nanya?”
Ya, mengapa aku menanyakannnya. Ia bisa melihat masa depan. Bila ia mengatakan itu, berarti memang benar aku akan mengecat skateboradku nantinya bagaimanapun kondisi finansialku.
Aku dan Hayden memang sering bersama. Hal itu berawal dari kasus kursi kosong yang terisi olehnya yang datang sebagai murid baru dari sekolah yang hanya sedikit yang mengetahuinya. Ia orangnya unik, cerewet, dan lucu. Terkadang memang ngeselin sih. Aku berteman dengannya bukan karena kemampuan spesialnya. Tanpa itupun ia sudah spesial, sudah aneh.
Tapi mendadak ia berubah sikap. Entah apa yang aku lakukan, aku hanya meberi gambar baru pada skateboardku, berkenalan dengan perempuan cantik penjaga counter skateboard, aku semakin kurus, nilai fisikaku meningkat, membeli gitar baru dari uang hasil taruhan bola berkat bantuannya, dapat team basket baru, dan orang tuaku datang dari semarang untuk kunjungan bulanannya. Apa yang mungkin membuatnya demikian?
“Jelek, berapa nilai fisika loe?”
“Ngga terlalu bagus,” jawabnya simpel. Biasanya jika aku tanya demikian, ia selalu menjawab, “Jelek, seperti loe, Jelek.”
“Loe kurang makan, ya?” dugaku, karena kulihat ia semakin kurus. Sepertinya dunia semakin kurus, tidak hanya aku. Tapi dugaan itu aku tepais setelah temannya, Dena, menyapanya dan mengajaknya bermain basket. Ia menyambutnya dengan semangat.
Memang ada yang salah, tapi apa?
Sementara beberapa hari sudah berlalu, orang tuaku kembali ke Semarang, nilai fisikaku tetap tinggi, team basketku menantang team kampus, dan aku semakin sering jalan dengan Sherly, gadis penjaga counter skateboard itu.
“Haydee,” sapaku dengan nama kecilnya.
“Gw sedang tidak ingin makan es krim,” jawabnya.
“Apa yang loe mau sekarang? Tapi jangan mahal-mahal ya, uang gw tinggal sedikit.”
“Yang gw mau ngga mahal kok. Gw ingin malam ini loe diem aja di kamar dan tidak pergi.”
Aku tidak mengerti kenapa, tapi itu mudah dilakukan. Apapun akan aku lakukan asalkan bisa membuatnya kembali seperti dulu, dan juga asalkan tidak aneh-aneh. Mungkin ada maksudnya, tapi sebaiknya aku tidak bertanya. “OK, tapi makan bakso dulu ya? Gw laper.”
Hingga sore hari aku tidak bertanya-tanya mengapa ia meminta demikian, hingga Sherly menghubungiku dan mengajakku pergi malam-malam. Aku tak bisa begitu saja meminta pembatalan perjanjian kepada Hayden, tapi aku juga tidak ingin menolak Sherly. Entah apa yang harus aku lakukan.
Maka akupun pergi diam-diam dengan harapan Hayden tidak mengetahuinya. Tapi terlambat, Hayden sudah menungguku di depan gerbang dan sepertinya belum lama.
“Gw tahu loe akhirnya akan pergi,” katanya sambil memangku dirinya seolah kedinginan karena malam. Tapi malam tidak terasa dingin bagiku.
“Boleh gw tahu alasan mengapa gw ngga boleh pergi malam ini?”
“Gw ngga ingin loe pergi dengan Sherly,” jawabnya sambil berdiri lalu menatapku dengan tatapan yang belum pernah aku lihat.
“Kenapa?”
“Karena gw sayang sama loe.”
Ini membuka mataku. Ternyata itu penyebab berubahnya sikapnya terhadapku. Entah apa yang harus aku lakukan, dengan siapa aku pergi sebenarnya adalah hakku. Tapi seharusnya aku menghargai seseorang yang mencintaiku. Seharusnya aku mengerti. Sherly belum tentu menyukaiku sebesar rasa sayang Hayden terhadapku.
Aku segera menghampiri dan memeluknya. Entah apa yang ia pikirkan hingga ia berbuat demikian. Rasanya sulit membayangkan jika itu karena cinta, karena Hayden adalah Hayden. Tapi aku juga merasakan hal yangs ama terhadapnya, jika ada seorang pria yang mendekatinya, aku tidak akan membiarkannya. Yang aku lakukan pada Sherly hanya ketertarikan fisik saja, tidak seperti rasa tertarikku pada Hayden.
“Gw hanya main-main dengan Sherly, gw tetap milik loe. Loe bisa melihatnya kan?”
Dalam pelukanku, aku bisa merasakan ia menggeleng.
“Someday you will. Trust me.”
Hayden lalu menatapku. Air matanya jatuh bagai butiran jagung kecil menggelinding di atas kulit wajahnya yang halus. Tapi lalu ia mengusap air matanya sendiri sambil tertawa, “Apa yang gw lakukan? Memeluk loe? Gw pasti sudah gila.”
Aku langsung tersenyum. Aku suka sikapnya yang seperti anak-anak. Tidak akan bisa aku dapatkan seseorang sepertinya, yang bisa mengisi hari-hariku dengan luar biasa.

Summer Glow

Pindah jam siaran memang menyebalkan, tapi aku ingin membuktikan bahwa aku loyal terhadap pekerjaan.
Aku adalah Sergei Frost, penyiar radio yang biasanya membawakan musik yang direquest oleh para pendengar. Tapi karena musim dingin, banyak yang cuti sakit. Maka aku dipindahtugaskan ke acara yang katanya sangat penting bagi radio itu, yaitu My Diary. Aku bahkan belum pernah mendengarnya karena disiarkan jam sembilan malam pada akhir minggu, waktu di mana aku belum pulang ke rumah. Karena pemindahan waktu tugas ini, aku terpaksa mengorbankan jam mainku di akhir minggu ini. Meski belum pernah mendengarnya, secara garis besar aku tahu teknis acaranya dari produser pelaksanaku.
My Diary adalah acara yang membiarkan seorang pendengar menelepon ke stasiun radio dan menceritakan kisah-kisahnya yang paling berkesan di hati. Mendengar itu saja aku sudah merasa aneh. Aku harus merelakan jam mainku hanya untuk acara ini.
Tapi aku menjadi tertarik pada acara ini karena suatu hal, yaitu dengan siapa aku berbicara. Nickname-nya Summer Glow. Mengingatkanku pada sesuatu, tapi aku harus memastikannya dulu. Ia adalah perempuan berusia 22 tahun dan bekerja sebagai perawat. Tidak salah lagi.
“Selamat malam para pendengar yang setia, gw Frostbite yang akan menjadi host kalian semua untuk malam ini,” salamku ketika siaran dimulai. Aku tak pernah menyebut nama asliku ketika siaran.
“Orang yang akan menceritakan kehidupannya kali ini adalah seorang perempuan ber-nickname Summer Glow, berusia 22 tahun yang bekerja sebagai perawat. Dia tidak ingin menyebutkan di mana tempat tinggalnya, tapi langsung saja kita sapa, Summer!”
“Hai!” jawabnya dengan ceria melalui telepon.
“Summer Glow, nick name loe unik sekali. Dari mana sih asalnya?”
“Gw ingat beberapa tahun lalu ada seseorang yang memanggil gw demkian di malam musim panas. Katanya, gw bersinar seperti fireflies. Tapi itu sudah lama sekali.”
“Dan loe mau menceritakan itu?”
“Bukan, tapi yang telah terjadi pada akhir musim panas lalu.”
“Kami semua siap mendengarkan.”
“Ok. Dua tahun yang lalu gw lulus akademi dan magang di sebuah rumah sakit. Gw bekerja 24 jam sehari dan setelah itu libur satu hari dan begitu seterusnya. Awalnya memang agak melelahkan, tapi tidak lagi sejak seorang dokter muda bidang general surgery mengisi hati gw. Sebut saja namanya Storm.”
“Storm dan Summer, sepertinya tidak cocok ya?”
“Andai gw tahu itu dari awal. Hubungan kami memang sempat naik turun. Dia sangat tampan sehingga banyak perempuan yang menyukainya. Tapi itu juga karena salah gw, yang sering kali tergila-gila pada pria tampan, bahkan pada dokter kucing gw.”
“Sepertinya sudah jelas kalian sulit untuk bersama.”
“Andai gw tahu itu dari awal, tapi dia sangat lovable. Gw ngga bisa lepas dari dirinya, hingga hari itu terjadi.”
Hening sebentar. Aku tahu ia sedang mempersiapkan emntalnya untuk menceritakan itu. “Kami siap mendengarkan.”
“OK. Waktu itu Sabtu malam tanggal 4 Agustus, di kafe pinggir muara sungai canal street. Satu setengah tahun hubungan gw dengannya bisa dihitung dengan dua tangan sudah berapa kali kami kencan, termasuk yang itu, karena selain shift yang berbeda frekuensinya, ia sangat sibuk bahkan di jam bebasnya. Makanya, setiap kali kencan, gw senang banget. Tempatnya pun sangat romantis.”
“Sepertinya loe senang sekali.”
“Tentu saja gw senang. Apalagi malam itu ia memberikan cincin berlian. Ia melamar gw ketika itu. Bisa dibayangkan betapa gw sangat bahagia ketika itu.”
“Oh, terus?”
“Tapi itu tidak lama. Esok paginya, gw berangkat kerja. Siangnya ketika ingin mempersiapkan ruang operasi untuk korban tembak, gw menemukan Storm sedang bermesraan dengan, sebut saja Lily, dokter prenatal surgery, di ruang operasi itu. Gw berusaha menahan rasa sakit, dan tetap profesional sambil berkata ‘Dokter Storm, anda akan mengoperasi korban luka tembak. Bersiap-siaplah.’ Gw sakit hati banget! Gw sudah memberikan segalanya kepadanya, bahkan gw sudah tidur dengannya.”
“Apakah seluruh rumah sakit tahu hubungan kalian?”
“Ya, termasuk dokter prenatal surgery itu.”
“Lalu, apa yang terjadi.”
“Malamnya, gw ijin pulang karena merasa ngga enak badan. Mungkin implikasi dari kejadian siang itu. Tapi langit tidak mengijinkan gw pulang, hujan deras datang ketika itu. Dan Dokter Storm sudah berada di belakang gw ketika gw sedang menunggu hujan. Gw tidak ingat dia bilang apa, tapi dia hanya mengaku menyesal. Gw sudah mendengar itu ribuan kali, dan gw ngga tahan lagi. Gw banting cincin itu di hadapannya, lalu pergi. Itulah terakhir kalinya gw melihatnya. Gw bahkan sampai pindah kerja. Sekarang gw kerja di Whitedale Hospital.”
“Deket dengan kantor pusat radio ini donk.”
“Oh ya? Seberapa dekat?”
“Sepuluh menit naik bus. Lalu apa yang akan loe lakukan dengan kehidupan loe? Sudah siap untuk jatuh cinta lagi?’
“Gw akan hidup seperti biasa. Masalah laki-laki, gw belum tahu. Gw masih trauma.”
“Sebelum loe mengakhiri siaran ini, bisa loe ceritakan dari mana asal nickname Summer Glow itu?”
“Ok. Seseorang, sebut saja Frost, memberikan nama itu di pertengahan musim panas lima tahun lalu, tepat sebelum gw masuk akademi. Dia laki-laki yang baik, ramah, dan tidak mudah tergila-gila pada perempuan. Dia teman gw sejak kecil, jadi gw tahu hal itu. Di suatu malam, ia mengajak gw ke tempat di mana fireflies biasa muncul. Banyak sekali, sangat indah. Dan tepat ketika itu, ia memanggil gw Sumer Glow. Sebenarnya ia memberikan satu nickname lagi.”
“Apa itu?”
“Rahasia dong. Yang jelas, jika bisa gw ingin sekali bertemu lagi dengannya.”
“Kenapa?”
“Rahasia dong.”
“Rahasia terus sih. Ya udah, masih ada lagi yang ingin diceritakan?”
“Sepertinya ngga ada deh. Sudah dulu ya. Kalau ada cerita lagi, gw telepon deh.”
“Baiklah. Sampai jumpa, Summer Sunshine!”
“Bye! Eh?”
Hubungan telepon sudah terputus, dan aku siap untuk menutup acara. “Inilah akhir dari acara My Diary, semoga malam kalian cukup menyenangkan. Terutama karena ini weekend, ngga ada salahnya dong bersenang-senang di rumah sambil mendengarkan acara radio ini. Kita bertemu lagi minggu depan. Bye.”
Aku langsung mengambil jaketku yang tebal dan berwarna hitam segera setelah aku keluar dari ruang siaran. Aku ingin pergi, ke Whitedale Hospital. Akulah Frost dalam cerita Summer Glow.
Elena Summer, itulah nama aslinya. Dan benar aku memberikan nama itu tepat sebelum ia pergi ke luar kota untuk belajar di akademi keperawatan. Summer Glow dan Summer Sunshine. Nama asli Dokter Storm adalan Jack Storm, kakak dari teman kuliahku. Aku tahu hubungan itu, tapi ia tidak tahu aku tahu.
Tapi sekarang ia sendiri. Dan aku sudah mendengar bahwa ia ingin bertemu denganku. Mungkin ia sedang tidak bekerja, tapi aku bisa tahu di mana tempat ia tinggal.
Elena Summer, perempuan kecil yang selalu ceria dan bersinar di mataku. Itulah mengapa aku memanggilnya Summer Glow. Dan aku masih menginginkannya.

Minggu, 13 Juli 2008

Hanya Ingin Bertemu

Baru sehari aku menginjakkan kaki di asrama kampus, aku sudah memikirkan si dia. Dia bukan kekasihku, hanya seseorang yang sangat aku impikan. Sudah enam tahun tidak bertemu. Ya, bisa ditebak bahwa terakhir kali aku bertemu dengannya adalah pada perpisahan kelulusan SD.
Tapi sekarang aku punya kesempatan untuk bertemu denganya, tapi aku belum tahu caranya. Aku melihat namanya di daftar mahasiswi yang masuk kampusku. Ia tinggal di asrama putri, sepuluh menit berjalan kaki dari asrama putra. Tapi putra tidak bisa begitu saja masuk ke asrama putri. Sambil terbaring di tempat tidurku di asrama, aku terus memikirkan hal itu.
Lalu aku teringat, aku memiliki teman perempuan di asrama putri. Aku hubungi saja dia.
“Jeng, apa kabar?”
“Langsung aja deh. Pasti ada maunya.”
“Iya. Gw mau minta tolong. Gw ingin loe berteman dengan perempuan yang bernama Neva. Setidaknya cari tahu nomor ponselnya deh.”
“Kenapa?”
“Dia cinta pertama gw. Pasti ngga sulit untuk orang yang agak ekstrovert seperi loe.”
“Ekstrovert? Apaan tuh?”
“Bukan apa-apa. Bisa, kan?”
Ajeng terdiam sebentar, lalu berkata “Gw ngerti. Gw dapet hadiah apa?”
“Nasi goreng, sampai delapan ribu rupiah.”
“Plus kentang goreng dan es krim.”
Dalam hati aku mengutuk Ajeng yang seenaknya saja menambah syaratnya. Tapi bertemu Neva lebih penting dari pada kehilangan lima belas ribu. “OK, tapi setelah gw bertemu dengannya.”
“Itu bisa diatur.”
Aku sangat mengandalkan Ajeng. Dia memang perempuan yang mudah mencari teman, walaupun agak gendut. Tapi dia sebenarnya enak untuk diajak bicara, dan orangnya fleksibel. Dia bisa beradaptasi dengan kondisi pertemanan apapun juga.
Satu hari berlalu, dan aku belum mendapat kabar dari Ajeng.
“Jeng, bagaimana?”
“Gw masih mencarinya. Orangnya pergi melulu, jarang berada di asrama.”
“Begitu ya.”
“By the way, dia itu seperti apa sih?”
“Yang gw tahu dan kemungkinan masih benar, dia orang yang sangat cantik, kaya raya, suka senyum, dan suaranya merdu. Selain itu, gw ngga tahu karena sudah enam tahun ngga bertemu.”
“Sejak SD dong? Cinta monyet tuh.”
“Bukan, gw yakin bukan.”
“Terserah loe deh. Bye.”
Benar, dia sangat cantik. Tapi terakhir kali bertemu dengannya, yang sangat aku ingat adalah ia perempuan yang sangat ceria, lugu, dan baik hati. Rasa ingin tahunya juga tinggi. Tapi manusia bisa berubah seiring waktu menempa. Aku harap ia tidak berubah, aku menyukai dirinya yang dulu.
Hari berikutnya.
“Bagaimana, Jeng?”
“Gw lagi jalan bareng dia,” jawabnya sambil bisik-bisik.
“Di mana?”
“Di pasar raya. Dia baik banget mau mentraktir semua temanya, termasuk gw.”
“Ya udah. Semoga sukses.”
Pasar Raya, adalah seperti festival yang berlangsung tujuh hari dua puluh empat jam. Ketika malam lebih ramai. Makanan di sana memang murah, tapi bagi penghuni asrama masih cukup mahal karena harus bertahan hidup dulu sampai kiriman orang tua yang selanjutnya datang. Bagi Neva tidak demikian. Dan ia memang cukup baik
Hari berikutnya, dua hari menjelang hari kuliah pertama. Dan aku semakin ingin bertemu dengannya.
“Jeng, ada celah ngga untuk bertemu dengannya?”
“Bisa. Jam enam besok pagi kita mau lari pagi. Loe stand by aja di depan asrama putri besok.”
“OK, tapi loe harus on time.”
“Belum tentu. Namanya perempuan pasti perlu dandan dulu, bahkan sebelum lari pagi.”
“Sialan.”
Dan sesuai instruksinya, aku stand by di depan asrama putri esok paginya. Mengenakan kaus tanpa lengan warna putih dan celana bela diri warna hitam, aku berusaha untuk terlihat mencolok. Thanks to teman sekamar yang mau meminjamkan celana panjangnya.
Sambil berpura-pura instirahat aku duduk di depan asrama putri. Agar tidak bosan menunggu aku mendengarkan musik lewat MP3 player. Aku tahu aku terlalu cepat, tapi lebih baik begitu dari pada terlambat.
Aku bisa melihatnya. Itu Neva! Astaga, dia semakin cantik, semakin dewasa. Benar-benar perempuan idaman seluruh pria. Dan ia masih menyukai warna merah cerah, seperti warna pakaian yang sedang dikenakannya. Model rambutnya tidak berubah, masih pendek seperti dulu.
Ajeng memberi aba-aba untuk mencegatnya
“Hai Neva,” sapaku.
“Hai.”
Aku seperti kesulitan bicara. Siapa yang tidak jika berhadapan dengannya?
“Kita pernah bertemu?” tanyanya.
“Ya. Masih inget kan?” aku tak mampu menjelaskan siapa diriku. Aku benar-benar grogi.
Neva masih berusaha mengingat siapa aku, tapi sepertinya tidak berhasil. “Berikan aku satu petunjuk.”
“Teman SD, jarang mengerjakan PR, sering terlambat, jahil, dekil, tidak disukai guru.”
“Itu bisa siapa saja.”
“Di lapangan sepak bola, ketika itu ada seseorang yang menyelamatkan loe dari bola yang mengarah ke loe, dan loe tetap menangis.”
“Dan ketika itu orang itu membelikan aku permen agar aku diam. Andre?”
“Iya.”
Tepat setelah itu seorang pria besar, lebih besar dariku, memeluk tubuh Neva yang mungil dari belakang, sambil menyapa “Hai sayang.”
“Hai,” balasnya dengan suara yang merdu sekali, yang aku harap untukku. Tapi bukan. Itu adalah kekasihnya, yang juga masuk kampus sama. Tubuhnya yang kecil seolah tertelan oleh pria besar itu.
“Dre, kalau ngga ada urusan yang penting, aku pergi dulu ya?”
“Ya.”
Ia dan kekasihnya lalu pergi berolah raga bersama, meninggalkan aku dan Ajeng. Mereka terlihat sangat bahagia. Aku sangat ingin berada di sisinya, aku bersumpah akan membahagiakannya dengan sepenuh hati melebihi siapapun. Tapi itu akan sangat sulit terwujud, aku tahu itu.
“Sabar ya, Dre.”
“Ya.”
“Traktirannya jadi, kan?”
“Ya. Gw hanya ingin bertemu dengannya saja kok.”

Sabtu, 28 Juni 2008

Aku Tak Bisa Mengingatnya

“Kathy, di mana file klien yang terakhir!?” seru seorang temanku, Sandra.
“Aku lupa, San.”
“Mana mungkin bisa lupa? Baru satu jam yang lalu kamu berhadapan dengannya.”
Aku berdiri di depan komputerku dan berusaha mengingat dengan melihat seluruh ruangan yang terlihat berantakan itu. Dari sepuluh meja itu, mejakulah yang paling berantakan. Dan aku masih tidak bisa mengingatnya.
“Di mana ya?” tanyaku pada diriku sendiri, sementara Sandra masih menunggu kembalinya ingatanku.
“Mungkin kamu mau sedikit curhat?” tanyanya.
“Untuk apa?”
“Orang bodoh pun tahu kamu sedang bermasalah. Pakaian kamu ngga matching, rambut kamu ngga rapi, dan kamu menjadi pelupa. Syukur deh kamu tetap on fire ketika berhadapan dengan klien tadi.”
“Aku ngga ada masalah kok, swear.”
“Yakin?”
“Iya. File klien itu masih di depan mesin fotokopi. Sekalian kopikan, ya? Mungkin aku lupa tadi,” kata-kataku tadi bisa meyakinkannya bahwa aku sedang tidak bermasalah. Aku sedang tidak cukup bermasalah dengan putusnya aku dan Andrei. Aku sedang tidak cukup bermasalah bila Andrei kembali ke mantannya. Aku sedang tidak cukup bermasalah dengan naiknya tagihan listrikku. Aku sedang tidak cukup bermasalah dengan hadirnya klien yang memiliki masalah finansial yang sangat parah. Bila dipikir-pikir, klien itu lebih bermasalah.
“Kathy, kamu pasti bermasalah deh,” katanya sambil memebrikan kopian file klienku beserta beberapa file aslinya.
“Kenapa?”
“Begitu aku sampai, file itu sudah terkopi. Apa mungkin orang yang tidak tahu hal ini mengkopinya?”
Tapi Sandra enggan melanjutkan pembicaraan, karena ia tahu aku tidak akan bicara. Aku hanya bicara banyak pada klien yang sedang mengalami masalah finansial dan memberi solusi, karena itulah pekerjaan konsultan.
Tapi aku sedang terganggu oleh sesuatu, entah apa itu. Gangguannya makin terasa ketika aku melihat foto besar wajah Andrei, yang aku harap mau mencukur dagunya lebih rajin. Kenapa setengah tahun perasaan yang dibangun dengan indah menuju suatu kesempurnaan bisa runtuh dalam beberapa detik saja oleh kata-katanya. Aku memang sedang bermasalah. Entah sampai berapa lama aku akan terus menyangkalnya.
Hidup memang tak adil. Sudah cukup aku mengetahui keistimewaan Andrei, seorang pemilik perusahaan alat tulis terkenal, yang memulai segalanya dari nol sampai angkasa dalam waktu singkat, orang kaya yang selalu memberikan setengah pendapatannya untuk amal, dan aku tak ingin mengetahui keistimewaan Lucia, pengacara terhebat yang selalu berpihak pada orang miskin dan selalu memenangkan kasus. Mereka berdua sungguh serasi. Berbeda sekali dengan aku yang selalu membantu orang-orang yang terlanjur bangkrut karena sikap boros mereka.
Tidak adil, karena Andrei sendirilah yang mengatakan tentang Lucia kepadaku ketika aku sedang minum kopi di kafe dan ia tidak sengaja menemukanku, seperti pertemuan pertama kami. Dan etnah mengapa pembicaraan menuju ke arah itu. Ketidaksengajaan juga?
“Kenapa kamu mengatakan itu kepadaku?” tanyaku.
“Aku hanya ingin kamu tahu, dia membosankan,” jawabnya.
“Menolong orang tidaklah membosankan. Itu sikap yang mulia.”
“Seperti yang kamu lakukan? Lama kelamaan kamu juga merasa bosan.”
“Aku menolong orang yang sudah terlanjur berdosa. Apa yang aku lakukan tidaklah sebanding dengan apa yang ia lakukan. Perbuatanku terlihat mulia, padahal tidak.”
“Begitu juga denganku. Ketika aku beramal, aku tidak tahu ke mana uang itu pergi. Kios rokok? Penjual minuman? Penyalur narkoba?”
“Orang miskin punya hal yang lebih penting dari itu semua.”
“Kamu tidak tahu apa-apa. Karena miskin mereka bodoh dan tidak tahu cara hidup yang benar.”
“Lalu apa yang salah dengan Lucia?”
“Kamu tahu dia pengacara.”
“Yang berpihak pada orang miskin.”
“Semua pengacara sama saja. Mereka memutarbalikkan kebenaran. Siapapun yang mereka bela, mereka selalu ingin menang. Mungkin mereka tahu siapa yang sebenarnya benar, tapi mereka tidak peduli. Orang miskin pun bsia berbuat salah.”
Aku menghela napas, membenarkan perkataannya. Tapi aku masih belum mengerti. “Kenapa kamu mengatakan ini?”
“Aku hanya ingin kamu tahu, semua yang terlihat baik di luar, belum tentu di dalamnya demikian. Aku pernah mengatakan kepada kamu bahwa perempuan itu, ...”
“Makhluk yang luar biasa, aku tahu,” dan membuatku jadi teringat pada Lucia yang berambut coklat dengan mata kebiruan yang selalu aku impikan. Begitu juga dengan tubuhnya yang selalu terlihat sempurna dan ia selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk tersenyum manis.
“Aku hanya ingin bilang, kamu luar biasa.”
“Tapi kamu tetap tidak ingin meninggalkannya?”
“Jika ada pilihan yang lebih mudah, aku tidak akan melepaskanmu.”
Aku masih ingin bicara, tapi hari harus berakhir. Aku akan sangat merindukannya. Aku menyesal tidak berlama-lama bicara padanya ketika masih sempat. Dan perasaan itu semakin terasa ketika aku bertemu bosku. Dan ia mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar sebagian besar kaum pekerja.
Aku akan dimutasi, tidak lama lagi.
“Please tell me it’s not true,” kataku ketika menghadapi kenyataan itu. “Apa ini karena penurunan kemampuan saya dalam bekerja? Karena saya menjadi pelupa akhir-akhir ini, atau yang lainnya?” tanyaku pada bosku yang merupakan perempuan paling bergaya dalam gedung tempatku bekerja.
“Yang lainnya. Aku memutasi kamu karena di tempat itu memang butuh seorang yang berpengalaman. Aku tidak bohong.”
Ya, dia memang tidak bohong. Bahkan ketika ia mengatakan bahwa Andrei adalah investor baru di tempatku bekerja, aku kembali berkata, “Please tell me it’s not true.”
Kenapa? Kenapa ini bisa terjadi? Menajdi investor baru dengan saham mayoritas akan menjadi bos.
“Kamu kenapa lagi, Kat?” tanya Sandra, memahami kesedihanku.
“Andrei akan menjadi bos di tempat ini.”
“Bukankah itu bagus?”
“Tapi aku akan dimuatsi sebelum ia menjadi bos di tempat ini.”
Mungkin ia akan menjadi bos, tapi ia tak bisa begitu saja menghentikan mutasiku dan beberapa orang lainnya, karena itu adalah keputusan rapat pemegang saham.
“Tapi kamu masih bisa bertemu dengannya.”
Tepat setelah ia mengatakan itu, Andrei sudah berada di belakangku. Ketika aku berpaling, Sandra pergi meninggalkan kami berdua.
“Aku sudah dengar gosipnya,” kata Andrei.
Aku tak bisa berkata-kata. Ia bisa membaca semua pikiran dan kesedihanku. Ia tahu, ia mengerti aku.
“Padahal aku berinvestasi agar bsai dekat denganmu,” katanya, dan aku tahu ia bohong. Keputusannya berinvestasi bukan karena itu. Ia tidak pernah berbuat bodoh seperti itu. Berapa banyak uang dan usaha keras yang harus ia keluarkan untuk mendapatkan saham mayoritas?
“Begitu? Bagaimana dengan Lucia?”
Aku bisa melihat wajah kecewanya. “Baiklah,” jawabnya sambil berpaling dan pergi melangkah meninggalkanku.
“Tunggu!” Aku tentu saja tidak bsia membiarkanya pergi. Aku memanggilnya kembali setelah ia melangkah beberapa kaki.
Ia berbalik menghadapku, tapi ia membuatku kesulitan berkata-kata.
“Aku tak bisa mengingatnya,” kataku.
Ia tidak mengerti. Tentu saja, aku kesulitan berkata-kata.
“Aku tidak bisa mengingat, kapan terakhir kali kamu memelukku. Aku akan dimutasi, dan hal terakhir yang ingin aku lakukan di sini adalah mengingat saat terindah dalam hidupku. Dan aku tidak bisa.”
Ia hanya tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya yang tadi tertunda, menjauhiku.
Aku kecewa. Aku langsung duduk di kursiku. Aku tidak tahan, ingin rasanya menangis. Tapi sebuah suara menghentikan hal itu.
“Waktu itu hari Rabu. Malam itu hujan deras dan kita sedang berteduh di rumahmu setelah kita berwisata di kapal feri. Kamu memakai pakaian berwarna biru. Dan setelah kita berciuman, aku memberimu anting mutiara. Dan aku lihat kamu masih memakainya.”
Aku berbalik memandangannya. Ternyata ia masih di sana.
“Aku juga ingat, aku merasakan manisnya buah peach di bibirmu.”
“Itu buah strawberry.”
“Apa?”
“Lipstikku rasa strawberry.”
Ia terdiam sebentar. Aku rasa ia sedang berusaha mengingat momen itu, mengingat bagaimana rasanya. Aku juga sedang mengenang momen itu.
“Baiklah.”
“Ya,” jawabku.
Lalu ia pergi dari hadapanku. Ia benar-benar mengerti aku, yang tidak ingin meninggalkannya dengan beban begitu berat. Sudah cukup bagiku untuk tahu bahwa Andrei bukanlah milikku.